Hallo Teman-teman Semua Apa Kabarnya? Kunjungi terus dan Tinggalkan Komentar membangun yia di Blog Aku! :) :)

IKLAN TERMAHAL DI DUNIA





HONDA ... Power of dream!!! Visinya terbukti dari iklan yang di realeasenya! Salut untuk yang telah memeiliki ide sebegitu detail dan hebat ini! :)

BERBAGI ITU INDAH :)



Setiap keadaan, kalau kita saling berbagi .. akan terasa sangat nikmat dijalani!! :) seperti anak ini ... tidak ada kata pelit ataupun serakah ... ^_^

ORDINARY KUTA


Tiga hari kita di Bali, setiap hari begini, menjelang senja berada di Kuta, aku duduk di sini dan kau bermain di batas laut mencium pantai.

Berada di Kuta, sore hari menjelang sunset, duduk di pasir memandang engkau yang tak lelah berjalan menyusur garis pantai, bermain dengan bibir ombak yang pecah lembut di barisan pasir yang seperti tak berujung. Keceriaan jelas menjadi gambar wajah, senyum tak pernah hilang, tawa kecil saat kau berlari menjauh agar jemari kakimu tak basah, jauh lebih menarik dari sekedar melihat matahari tenggelam ke batas pandang di ujung laut.

Mereka pasti memandang ini sebagai ironi terbesar dalam sejarah, karena ribuan dollar dipakai oleh sebagian orang hanya agar beroleh satu kesempatan dari ribuan hari hidup mereka, sehari saja, berada di Kuta dan memandang sunset. Belajar menabung dengan baik, berkonsultasi dengan ahli keuangan yang juga mengeluarkan banyak dollar, mengambil shift lembur lima hari sepekan, agar tetap mampu menabung tanpa harus kekurangan. Beberapa di antara mereka juga harus mengejar other job, demi satu tujuan. Suatu kelak, saat pundi-pundi tabungan mampu membekali perjalanan jauh, mereka akan terbang ke timur jauh, ke pulau yang disebut Island of God, untuk di suatu senja berada di pantai Kuta memandang matahari menghilang dan tersenyum takzim, puas, dan segala beban hilang lepas.

Kau lihatlah, seorang pria di sampingku, binar wajahnya memancarkan isyarat kepuasan yang tak mampu ditampung bahasa. Aku tadi mengajaknya bicara, tetapi tidak pada detik-detik ini. Detik di mana, suara tak lagi penting, aksara tak lagi bermakna, hanya rasa kagum yang dinikmatinya hikmat, seperti engkau menikmati konsekrasio, tak ingin diusik, pertunjukan kuasa-Nya terlalu Agung hanya untuk diganggu dengan pertanyaan, “How Long Have You Been In Indonesia?”; atau pertanyaan basi anak-anak jurusan pariwisata yang sedang melatih kemampuan berbahasa Inggris mereka, seperti, “Where you come from?”, “Do you like Bali?”, What do you think about Balinese?”

Kau lihatlah, dia menikmatinya dengan takjub yang sempurna, sehingga aku tak tega dan tak kan pernah tega menukarnya dengan pertanyaan basi yang tak sempat kuungkapkan sesaat sebelum detik ini, “where do you go after enjoying Bali?”. Aku menyimpan pertanyaan itu, untuknya dan untukku sendiri. Karena mungkin setelah detik ini, kami tak akan ke mana-mana dan mati. Mati di Bali.

Aku ingat waktu kecil, begitu terobsesi dengan tempat bernama Bali setelah mamaku bercerita tentang sebuah artikel yang dia baca di majalah perempuan entah apa, artikel berjudul JANGAN MATI SEBELUM ENGKAU KE BALI. Dia bercerita dengan sungguh-sungguh tentang Bali yang indah, kesungguhan yang membuatku sungguh-sungguh berniat suatu saat jika dapat, mengajaknya ke Bali. Beberapa tahun lalu, sebelum engkau hadir dalam hidupku, aku mengajaknya ke tempat ini, membiarkannya duduk di atas pasir ini dan tak mengajaknya bicara hingga beberapa jam setelahnya. Kulakukan itu agak tak merusak sensasi selembut kulit bayi yang terukir di pancaran wajah dan terpatri di hati.

Tugasku untuknya kuanggap selesai, dan kini aku berurusan denganmu. Ya, aku hanya berurusan denganmu, bukan dengan matahari tenggelam di batas pandang laut dari pantai bernama Kuta ini. Aku juga tak berurusan dengan pria siapapun namanya di sampingku yang kini mulai terbaring meneruskan menikmati sensasinya karena mentari benar-benar hilang. Aku tak berurusan dengan ramai kendaraan di belakangku, dan hentakan musik dari kejauhan di Hard Rock Café.

Aku hanya berurusan denganmu manisku. Engkau yang kini sedang menikmati irama kakimu menjejak pasir, tenggelam dalam dunia damai yang kau bangun sendiri, dunia damai yang ingin kau hayati sendiri, namun getar nuansa beningnya sampai di sini. Inilah mungkin yang mereka sebut telepati, mampu menikmati apa yang kau rasakan tanpa harus bersentuhan atau bicara. Tak butuh konsentrasi tinggi untuk itu, apalagi sampai harus menutup mata dengan kain tak tembus pandang. Hanya para pesulap yang memerlukan itu. Sedang kau dan aku? Kita hanya perlu rasa yang terasah sekian lama, hati yang berbagi sepanjang hari dan senyum yang terberi sepanjang waktu.

Kita telah melakukannya manisku, bahkan jauh sebelum aku memutuskan mengajakmu ke Bali, sejak awal aku melihatmu hadir dalam hidupku dan menguat tiga tahun silam saat dia tak lagi ada di antara kita, hanya kau dan aku, kita berdua dan hidupku dengan engkau menjadi sumbu, tempatku berputar mengelilingi. Aku bumi dan kau matahari. Kutegaskan sekali lagi, aku bumi dan kau matahari yang tak kuingin berhenti. Jangan berhenti, atau aku tak lagi mampu berputar. Posesif memang, naif mungkin, tetapi salahkah posesif, rendahkah naif, padahal aku menyayangimu sepenuh hati? Aku tak kan mengusikmu, merusak duniamu, menodai khayalmu. Kau punya dunia sendiri, kusadari itu dengan sepenuh jiwa; tak kan kupaksakan duniaku masuk ke duniamu, karena adakah artinya itu sementara duniamu adalah duniaku kini?

Jangan berhenti berpendar matahariku, meski sunset di Kuta ini telah lama lewat. Teruslah menari di bibir pantai.

Satu persatu telah meninggalkan pantai, juga pemuda Rusia yang tadi di sampingku. Sebagian dari mereka mungkin ke Legian, melanjutkan menikmati malam, menghabiskan lebih banyak dollar untuk sensasi yang lain. Aku tak perduli, karena aku tak kan beranjak dari tempatku duduk hanya agar mampu memandangimu tekun dalam duniamu, laut malam yang damai mencium pantai, tari-tarian kaki tak rapi, rambut ombakmu yang kau biarkan tergerai di sini di Kuta Bali.

Tiga hari kita di Bali, setiap hari begini, menjelang senja berada di Kuta, aku duduk di sini dan kau bermain di batas laut mencium pantai. Jam sembilan malam saat tempat ini tak lagi ramai, biasanya begitu seperti juga saat ini, kau selesaikan bermainmu dan mendekat.

Lihatlah, betapa kau menjadi lebih cantik setiap hari. Ah, aku terlalu mencintamu dan semakin bertambah setiap hari. Kau mendekat, berlari kecil, aku beranjak berdiri dari tempat ku duduk, berjalan kecil menyongsongmu, sembari payah menahan sesak cinta yang semakin menghimpit dada. Beberapa patah kata telah siap keluar, tetapi aku tahu, untukmu, cinta tak butuh kata-kata, dia hanya lebih berarti ketika hadir dalam sikap.

Kita semakin dekat, dan dekat sekali lalu kau menghambur dalam pelukku. Hanya beberapa detik, dekap itu membuatku semakin yakin, cintaku padamu lebih besar lagi hari ini.

Dan kita melangkah pergi meninggalkan pantai, sambil kau katakan ini, “Kalau Bunda di sini, pasti lebih indah ya Pa…”

Sesak di dada ini semakin terasa, tetapi kau tak berhenti berkata-kata. “Tapi Bunda pasti bahagia di surga kan Pa…?”

Kurasakan bulir bening dari bola mata akan jatuh ke pipi. Segera ku usap, sebelum kau lihat. Dan kudengar lagi kau bicara, “Sudah berapa tahun Pa, Bunda pergi?” Dan kau berkata lagi, “O iya, sudah tiga tahun ya… Tapi Bunda pasti melihat kita kan Pa?”

Aku berhenti. Kau juga berhenti. Tapi tangan kita tetap bergandeng. Ku tahu kau tak mendengar dengan telingamu, tetapi aku sedang bicara dalam hati dengan sepenuh jiwa sambil menatap mata beningmu. Kukatakan ini dalam hati, “Bunda ada di sini, di hatimu dan Papa. Bunda tak pernah pergi, apalagi meninggalkan kita, bunda telah menjelma menjadi kita dan pantai.”

Kau tak mendengar dengan telingamu, tetapi dengan hati dan mengerti. Lihatlah kau tersenyum kini, mengangguk kecil, tersenyum dan kita melangkah lagi.

“Besok ke sini lagi ya Pa,” katamu dalam hati “Pasti matahariku,” jawabku juga dalam hati.

Kuta yang biasa, adalah Kuta yang luar biasa dengan hadirmu perempuanku, matahariku.

Aku bumi dan kau matahari. Jangan sekali pendarmu mati, karena aku mencintaimu dan semakin mencintaimu setiap hari.

Sumber : Kompas Indonesia

IBUKU ALKOHOLIK


Ibu masih terbaring dalam buaian mimpi. Butuh waktu selama 5 jam untuk menyadarkannya kembali, dan keadaan ini tidak akan mampu diingatnya ketika membuka mata.

Aku ingin membencimu dengan istimewa Ibu. Saat ketidakmampuanmu jadi Ibu. saat di mana kau habiskan seluruh hidupmu untuk alkohol. Matamu yang merah setiap bangun tidur lengkap dengan kotoran muntahmu yang berserakan. Aku tidak mengeluh, karena aku tahu Ibu bahagia untuk semua itu. Teman-temanku juga teman Ibu, melihat Ibu tidak pernah mabuk. Mereka memuji kekuatan Ibu, keperkasaan Ibu melangkahi kodrat. Sayang, aku tidak berpikir demikian. Sesungguhnya aku tidak pernah melihat Ibu sadar. Kesadaran itu akan menyakitkanmu Ibu. Aku tidak ingin melukai Ibu, walau sesungguhnya aku tahu sisa-sisa luka itu menyeretmu dalam rapuh.

Hari ini aku sengaja bangun lebih pagi. Melihat Ibu lelap tertidur di kamar adik kecilku. Malam kemarin Ibu menangis lagi. Seperti biasa sisa anggur membasahi bibirnya. Ku perhatikan garis-garis tipis di wajah Ibu. kerutan di kening, pelipis, dan pipinya bertambah lagi. Aku tidak ingin Ibu menua, karena aku ingin mengajaknya melihat surga bersama. Cepat kubasuh wajah tirusnya dengan air suam-suam kuku. Setidaknya ini akan menghangatkan dia yang tengah kesepian. Aku memeluknya, menciumnya dan berbisik tentang cinta. Satu-satunya kesempatan aku melihat Ibu seperti Ibuku adalah saat seperti ini. Saat ia tak berdaya dalam lelap.

Ibu masih terbaring dalam buaian mimpi. Butuh waktu selama 5 jam untuk menyadarkannya kembali, dan keadaan ini tidak akan mampu diingatnya ketika membuka mata. Aku bisa membuatnya menjadi seperti yang kumau hari ini. Aku sering melihat bagaimana temanku didandani Ibunya ketika menginjak remaja. Tapi, Ibu tak pernah melakukannya untukku. Ia hanya bilang ‘Mengapa aku melahirkan wanita. Wanita tidak berhak hidup.’ Kata-kata yang menyakitkanku juga si bungsu ‘Anin’ yang baru berumur 14 tahun. Aku hanya membalas tatapan matanya yang kosong. Tidak kulihat kesungguhan yang ia ucapkan. Ia lalu memalingkan wajahnya, mengambil anggur yang jadi sahabat kepiluannya.

Mulai menyisir rambut ikalnya, jenis rambut yang menurun padaku. Tak kusangsikan, belahan rambut di sisi kiri kepala Ibu penuh uban. Kelam yang sekali lagi membuatku takut. Benarkah Ibu sudah tua??? Aku baru saja menghitung, Ibuku berumur 32 tahun. Segera kuambil semir, lalu menjalin rambut Ibu agar lebih rapi. Kuangkat sedikit dagunya, melihat kepedihan mendalam di pori-pori wajahnya. Lukisan gincu, bedak, cilak, membuatku sedikit tenang. ‘Ibu masih muda’, kataku.

Memasangkan giwang perak yang selalu ia simpan di dalam kotak merah, mempercantik telinganya. Ibuku berubah jelita. Sejak 12 tahun lalu Ibu seolah lupa bagaimana cara berdandan dan merawat diri. Tangisku pun mengusik Anin. Ia melihatku dengan cemas. Aku tahu ia ketakutan. ‘Mbak, siapa wanita di sampingmu? Wajahnya aneh sekali’, ungkapnya setengah sadar. ‘Dek, kamu benar tidak mengenalinya? Dia Maria dek, Ibu kita.’ Gadis kecilku Anin, begitu juga aku tidak pernah memanggil Ibu, kami lebih dekat dengan sapaan Maria. Di pikiran Anin, Maria itu adalah teman sebayanya, teman yang tertawa bersamanya, teman yang selalu terlibat pertengkaran kecil di rumah ini. Jemariku yang terbiasa kasar pernah merampas tawa Anin. Saat itu, aku melihat Ibu mengajarkan Anin menuangkan anggur-anggur ke gelas pesta. Hampir saja Anin mereguk dusta, seperti yang Ibu lakukan seharinya. Anin beranjak, mengamati setiap jengkal wajah Maria.Hari ini Anin mengakui bahwa Maria pantas menjadi Ibunya.

‘Aku membenci alkohol, tapi aku membutuhkannya’ itulah alasan Ibu yang tak pernah aku pahami. Aku berusaha untuk tidak bisu. Mengajaknya berbincang, berbicara tentang kebohongan dan ketidaksadarannya. Getir yang hampir jatuh di pelupuk mata, membuatku ingin berlari. Jika aku sanggup, aku ingin membunuh Ibu. Ibuku yang telah lama mati, Ibu yang tak punya jiwa lagi. Ia tertawa sambil menyusun gelas kristal. Ia sering mengajakku untuk minum, memperkenalkan anggur-anggur yang dibelinya. Berbagai jenis aggur merah yang pernah kuingat. Merlot, cabernet sauvignon, syrah shiraz, dan pinot noir itu punya ruangan tersendiri di samping dapur. Aku sengaja tidak memberi uang lagi pada Ibu, karena aku tahu ia hanya akan memenuhi koleksi anggur merah yang tak berarti dimataku.

Di bawah temaram Ibu berlagu sendu. Berbincang sendiri, tertawa cekikikan, bahkan menangis pikuk bersama anggur-anggur kesayangannya. Langkahku tertegun menghampiri Ibu. mengajaknya bersulang bersama, agar ia merasa tak sendiri. Kami terlibat perbincangan kecil. ‘Aku bertemu pria dalam mimpiku, Karin’, dialog pembuka yang sudah aku hafal betul. Benarkah Ibu hanya bermimpi tentang lelaki? Tidak adakah ruang yang mengetuk nuraninya untuk menjadi Ibu yang Aku dan Anin butuhkan? Kali ini kubiarkan dia menyelesaikan kalimatnya, sedangkan aku mereguk anggur di gelasnya, tanpa ku pedulikan anggur di gelasku yang telah ia tuang. Ia bangkit lalu menamparku. ‘Hentikan merebut punyaku’, ujar Ibu. Astaga…kali pertama aku mendengar katanya penuh emosi. Inilah alam sadar Ibu yang kutunggu. ‘Apa yang kamu miliki. Kamu tidak memiliki apapun di dunia ini Maria’ pancingku bersambut. Senja yang mengeja kisah kelam Ibu akhirnya terkuak.

Wanita cerdas bernama Maria itu, tidak pernah bermimpi menjadi Ibu. Baginya pernikahan adalah penindasan. Itu diyakininya sebagai penghambat mimpinya menjadi seniman. Kini, hanya sisa gelap di mimpinya itu. Ku genggam tangannya yang gemetar, membantunya menuangkan anggur, hingga ia melanjutkan ceritanya. Pernikahan Ibu adalah sebuah kesalahan. Ia mengetahui bangunnya dari tidur telah menjadi seorang istri saat berusia 19 tahun. Kalimat yang diujarkan Ibu penuh nada galau. Depresi ringan yang ia alami membuatnya bergantung pada anggur-anggur itu. Setelah meminumnya, Ibu serasa punya semangat lagi menjalin bahtera rumah tangga dengan bahagia sampai akhirnya aku lahir, 12 Januari 1988.

Ibu dihadapkan lagi pada dunia baru, dunia mengasuh anak. Ibu mengakui ketidakmampuannya, sehingga ia sering menelantarkanku dan lebih memilih bercinta dengan anggurnya. Kebohongan telah dirajut. Ibu berbohong, tidak pernah menyentuh alkohol pada Ayah, juga keluarganya. Hingga Anin terlahir, kebohongan Ibu masih tidak ada yang mengusik. Aku paham mengapa Ibu memilih lari bersama anggurnya, karena Ibu merasa asing, sendiri setelah aku, Anin, juga Ayah pergi meninggalkannya oleh kesibukan kami masing-masing. Ibu minum setiap hari dan tidak bisa menghentikannya. Ia juga berbohong pada dirinya sendiri, merasa baik-baik saja di tengah deru yang menggunung. Dalam sadarnya ia mengakui bahwa keterlambatannya datang saat aku diwisuda, saat Anin mendapat penghargaan anak berprestasi, dan beberapa kisah penting lainnya adalah karena ia menunda waktunya untuk minum, berkencan bersama anggurnya. Sangat wajar jika aku membencinya. Jika aku berpaling saat kata maaf itu sudah jenuh menyapaku.

Kesehatan Ibu yang makin lemah, membuat Ayah mengerti seperti apa wanita yang dinikahinya itu. Ayah tidak menerima kekurangan Ibu yang setiap kali menangis sehabis meraup nikmatnya anggur merah dengan bau mulut yang dibenci Ayah. Kini aku paham masalah kronis yang memicu pertengkaran hebat di rumah kami. Ibu yang tak mau berubah, Ayah yang jenuh, dan anak-anak yang tak peduli.

Rupa malam menghadirkan kembali memori indah bersama Ayah dua tahun lalu. Seandainya Ibuku bukan alkoholik, Ayah pasti masih di sini menyajikan cerita-cerita menarik seputar orang-orang hebat yang dikenalnya. Ayah yang telah memberi cinta yang begitu besar. Memberi segalanya yang Ibu butuhkan, namun mengapa Ayah tak mampu melindungi Ibu dari ketakutan ini? siapa sesungguhnya Ibu?

Kutuangkan lagi anggur merah hingga tetesannya kembali mengurai air mata Ibu. Ia melanjutkan ceritanya. Dalam mabuknya, Ibu mengalami halusinasi dan mendengar suara-suara yang tampaknya menuduh dan mengancam hidup Ibu. Sulit kubayangkan teror yang Ibu hadapi. Sepertinya sangat menyiksa, dan Ibu ketakutan. Aku pernah melihat Ibu minum obat-obatan. Dalihnya, ia sedang tidak enak badan. Setelah aku mengetahui kecanduan Ibu, aku paham halusinasi alkohol bisa berlangsung berhari-hari dan dapat dikendalikan dengan obat-obatan anti-psikosa (seperti klorpromazin atau tioridazin). Ibuku sungguh pandai menipu. Aku tak sanggup memahaminya. 2 jam kami berbincang membuatnya letih dan akhirnya lelap, membiarkan aku terpaku pada tanya yang tak kunjung bertemu jawabnya. Kucium tubuhnya penuh aroma anggur dan mengucap selamat malam.

Sumber : Kompas Indonesia