Hallo Teman-teman Semua Apa Kabarnya? Kunjungi terus dan Tinggalkan Komentar membangun yia di Blog Aku! :) :)

AKU BUKAN PENULIS, PENARI dan PELUKIS


Sayang, …

Aku bukan penulis, tapi aku ingin jadi penulis

Karena dengan profesi itu, aku bisa menuliskan setiap langkah setiamu yang penuh kasih sayang

Aku bisa menuliskan setiap gerak perhatianmu yang penuh cinta

Sayang, …

Aku bukan penari, tapi aku ingin jadi penari

Karena dengan profesi itu, aku bisa memancarkan keindahan gerak tubuhku

Aku bisa menebarkan pesona lentik jari jemariku

Sayang, …

Aku bukan pelukis, tapi aku ingin menjadi pelukis

Karena dengan profesi itu, aku bisa melukiskan wajah beningmu di kanvasku

Aku bisa melukiskan kesempurnaan sosokmu yang indah

Sayang, …

Kenyataannya!! …

Aku bukan penulis, penari atau pelukis

Aku tak mampu menuliskan setia dan perhatianmu

Aku tak bisa menarikan keindahan dan pesona tubuhku

Bahkan aku pun tak mampu melukiskan kesempurnaanmu di tiap kanvas-kanvas kosong


(putri bariel - untuk ke apa adaanya aku!)

TETAP DISINI PAPA - MAMA


Tetaplah disini PAPA …

RumahMU disini, di istana hatiku, putriMU …

KediamanMU hanya disini, di ruangan kalbuku, putriMU …

PAPA adalah raja di istana hati ini … PAPA adalah penghuni relung kalbu ini!

Tetaplah disini MAMA …

Rumahmu juga disini, di istana hatiku, putrimu …

Kediamanmu juga hanya disini, di ruangan kalbuku, putrimu …

MAMA adalah ratu di istana hati ini … MAMA adalah penghuni relung kalbu ini!

PAPA! … MAMA!…

Hingga saat ada seorang pria menghampiriku dan mendapat ruang khusus dihatiku

PAPA tetap disini, MAMA tetap disini!!

Ruang yang akan PAPA-MAMA huni selamanya, takkan ada penghuni pengganti

PAPA! … MAMA!…

Hingga saat pria itu memimpinku dan mendapat keutamaan dikalbuku

PAPA harus tetap disini, MAMA juga harus tetap disini!!

Karena Hati ini, Kalbu ini

Adalah Ruang yang akan PAPA-MAMA huni selamanya, takkan ada penghuni pengganti


(Putri Bariel - Untuk Papa dan Mama yang selalu dihatiku)

LORONG CITA


Ruang itu semakin sempit, gelap bahkan menghitam ...

Lewat lorongnya aku paksakan walau tertatih terus melangkah ...

Langkah pertama ...

Langkah kedua ...

Ketiga ...

Keempat ...

Hingga seterusnya ...

Didepan mata seolah tampak secercah cahaya harapan ...

Langkahku semakin cepat, menggapai cahaya kuharap bertuah ...

Cahaya itu semakin terang ...

Terang ...

Jelas ...

Ruang sempit, terasa luas ...

Lorong kelam penuh cahaya benderang ...

Letih hilang seketika, seakan cahaya itulah cita ...

Ternyata cahaya ini hangat ...

Hangatnya memberikan nafas baru untuk kehidupanku ...

(putri bariel - untuk semangat yang kembali bangkit :) )

PETA BUMI DATAR


Sebuah peta langka yang menggambarkan Bumi datar akan didonasikan kepada Library of Congress di Washington DC, Amerika Serikat. Peta yang berumur 120 tahun itu mendukung teori Bumi yang datar, bukan berbentuk bola.

Peta yang dibuat oleh Orlando Ferguson dari Hot Springs, South Dakota, AS, itu saat ini dimiliki oleh Don Homuth yang tinggal di Salem, Oregon. Menurut keterangannya, peta itu merupakan pemberian guru bahasa Inggrisnya di kelas delapan yang bernama John Hildreth.

Homuth berniat untuk mendonasikan peta itu pada akhir Juni setelah selama bertahun-tahun menyimpannya dalam keadaan terlipat. "Sangat mengejutkan saat mengetahui ini mungkin satu-satunya peta yang menggambarkan bumi datar yang ada," kata Homuth seperti dikutip Daily Mail.

Menurut Robert Morris, spesialis informasi teknis senior pada Geography and Map Division di Library of Congress, mereka telah berupaya mencari di antara 75 hingga 100 peta yang berkaitan sebelum memastikan bahwa mereka belum memiliki peta serupa dalam koleksinya. Saat ini, Library of Congress mempunyai lima juta peta dalam koleksinya. Namun tak satupun yang serupa dengan peta yang dimiliki Homuth.

Morris pun mengatakan, mungkin peta tersebut hanya dicetak beberapa lembar. "Dari jumlah itu, lebih sedikit lagi yang kondisinya masih utuh," katanya. Peta serupa lainnya diketahui ada di Pioneer Museum of Hot Springs di rumah Ferguson, sang pembuatnya. Namun bagian bawah peta di museum itu hilang sehingga peta yang kini di tangan Homuth lah yang kondisinya masih utuh.

Sumber : National Geographic Indonesia

MENUJU JALAN PULANG


Teriakanku semakin kencang, karena tiba-tiba bunyi guntur menggelegar, dan di sela suara tak berirama itu aku mendengar suara lain memanggil namaku ...

Perjalanan jauh dengan misi yang tak pasti memang jauh dari kesan menyenangkan. Buruk, tak punya gambaran yang jelas tentang apa yang akan terjadi. Sehingga tak ada sedikitpun kesempatan berkhayal tentang kemungkinan yang tak pasti sekali pun. Dengan sangat terpaksa harus diam, mulut tak bergerak dan pikiran dibiarkan mati. Proses kreatif yang menstimulus ekspresi air muka juga tak tercipta. Kaku. Badan bergerak tapi bukan karena perintah otak, hanya mengikuti gerak kapal yang berusaha bergerak konstan melawan hantaman gelombang Desember.

“Dari tadi tadi aku perhatiin, pandangannya koq kosong bang,” datang suara dari meja di sampingku. Aku di bar kapal. Sejenak menoleh ke arah datang suara, lalu kembali melihat kosong sambil bergumam, “Iya, lagi pingin sendiri.” Usai bergumam, aku sadar bahwa baru saja bercerita dan tidak menjawab pertanyaan. Lalu tidak ada suara lagi yang aku dengar. Aku mati suri, mungkin. Atau bahkan sudah mati duduk. Aku belum pernah mati. Tapi pengalaman seperti saat ini juga belum pernah kualami, sehingga aku berpikir mungkin sudah mati.

Tak sadar, aku sudah di geladak kapal. Menghadap ke lautan yang tidak biru tapi hitam. Sekarang malam. Angin malam menerpa keras dan kasar. Sweater hitam yang kupakai sepertinya memang tidak cocok menahan angin sekuat ini, sehingga dingin tetap menembus kulit meski tak sampai ke tulang. “Hai….”

Entah darimana datangnya, gadis yang tadi tahu pandangan kosongku di bar kapal, kini ada tepat di sampingku di geladak. Kami hanya berdua, tapi dia tampaknya lebih siap berada di sini daripada aku. Jaket kain ala Eropa dengan krah bulu angsa, membungkus tubuhnya sampai ke betis, sehingga sulit untukku menebak rampingkah dia? Atau montok?

Entahlah, mungkin dia gemuk sehingga memilih menutup kegemukannya dengan jaket besar dan panjang. Saya bisa memaklumi itu, soalnya dia sepertinya tipe gadis modern yang ingin tampil ramping tapi tak cukup kuat menjaga keseimbangan metabolisme tubuh. Namun yang pasti, dia tidak lebih tinggi dari aku. Ujung tertinggi topi dingin yang bertengger angkuh di kepala sejajar dengan telingaku saat kami sama berdiri tegak.

Gadis itu memang lebih siap ada di geladak daripada aku. Buktinya, dia pake topi dingin sedang aku hanya berharap pada rambut keritingku yang kubiarkan tebal. Kribo. Sama sekali tidak siap, karena tidak ada rencana untuk bersantai di geladak pada jam setengah dua belas malam.

Penumpang lain sudah lelap, sebagian bermimpi tentang liburan nan mewah di Nusa Dua. Kapal kami baru saja meninggalkan Benoa untuk terus ke Perak Surabaya. Aku belum tidur. Gadis di sampingku juga belum. Karena kalau dia tidur, dia pasti tidak di geladak, tetapi di kamarnya. Dia pasti sewa kamar di kapal ini. Jaketnya malam itu menjelaskan kalau kondisi ekonominya tidak sama dengan yang ada di dek ekonomi.

“Hai….” “Hai juga, belum tidur?” “Belum, kamu sendiri?’ Gadis ini, sekarang dia berani ber-kamu, padahal seingatku di sewaktu di bar tadi dia ber-abang. Mungkin dia sudah bisa menebak kalau usiaku tak jauh beda dengannya sehingga tidak perlu bersantun-ria. Atau dia ingin membangun suasana yang akrab. Kami di geladak kapal. “Sama,” jawabku sambil terus cerita jujur. “Akhir-akhir ini aku emang nggak bisa tidur. Sudah lebih seminggu” “Koq bisa,…. Kamu insomnia ya?” “Nggak, aku cuma takut gelap. Tiap aku coba terpejam, rasanya seperti dalam peti mati. Selalu ada mimpi buruk dalam tidurku” “Gimana rasanya?” “Dalam peti mati?” “Bukan,…” ia tersenyum. Mungkin pertanyaanku baginya terdengar lucu atau atau agak naif. Lalu menyambung, “Kamu kan sudah seminggu lebih nggak bisa tidur. Gimana rasanya tidak tidur selama itu?” “Can’t be explain. Tapi sepertinya aku harus tidur sekarang. Mudah-mudahan bisa. Selamat malam,” kataku sambil melangkah menjauh meninggalkannya di geladak. Aku mulai merasa kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan gadis itu. Aku kurang siap menjawab. Karena menjawab berarti harus bercerita tentang persoalan yang sedang aku bawa. Padahal aku belum siap bercerita. Apalagi sekarang kantuk mulai menyerang. “Hei…!” kudengar ia setengah berteriak. “Kita kan belum sempat kenalan.” “Aku Silver. Silver Yohanes,” sahutku tetap melangkah. “Aku Helena. Helena Puji Astuti. Tapi panggil aku Helen,” sahutnya seolah pasti kalau kami akan ketemu lagi.

Kami berpisah di tempat itu, di geladak kapal. Jam setengah dua belas lebih tujuh belas menit. Aku ke dek tiga. Kulihat tempatku belum terisi. Aku tidur. Samping kiriku seorang Ibu muda tidur memeluk putri kecilnya. Keduanya lelap, terdengar dengkuran halus sekali, semakin halus, sampai aku tak mendengar apa-apa lagi. Aneh, aku bisa tidur dan baru terbangun saat terdengar pengumuman kapal akan segera sandar di Pelabuhan Perak. Hampir jam empat pagi. Luar biasa! Bukan karena obat tidur, tapi karena karena obrolan tak sampai seperempat jam dengan gadis bernama Helen, aku bisa lelap. Tak ada mimpi buruk. Andai aku bertemu dia dua Minggu sebelumnya, mungkin mataku tak akan cekung. Banyak hal yang bisa dijelaskan tapi akal sehat tidak cukup luas untuk bisa menerimanya sebagai hal yang rasional.

Sauh sudah dibuang, kapal Dobon Solo yang membawaku dari Dermaga Pilemon Labuan Bajo kini benar-benar berhenti di Pelabuhan Perak Surabaya. Aku sendiri sudah di luar kapal, agak jauh ke darat sibuk menawar angguna untuk mengantarku ke Perumahan Wisma Tropodo di Sidoarjo. Temanku menunggu di sana, di rumah kontrakan yang akan kami tempati berdua. Aku pilih angguna, uangku tak cukup untuk taksi. Tak banyak yang terjadi sepanjang perjalanan. Sopir Angguna sekitar empat puluh tahun bahkan tidak pernah bicara.

Jam 07.00 waktu Sidoarjo Di dalam kamar sebuah rumah mungil di jalan Dokter Sutomo, kompleks perumahan Wisma Tropodo. Rumah itu kontrakan temanku. Anak Solo bernama Bontos, bertubuh tambun, teman kampusku yang sekarang kerja entah sebagai apa di kawasan Rungkut. Saat aku datang dini hari tadi rumahnya terlihat bagus. Rapi.

Tetapi sepertinya sekarang ada yang berubah. Bontos tak ada di rumahnya. Malah kini terlihat ada beberapa perempuan berpakaian putih-putih. Mereka membelakangiku, bernyanyi tanpa syair. Tapi lagu itu, lagu yang mereka nyanyikan sepertinya sangat akrab di telingaku. Aku berpikir keras. Sangat keras sampai akhirnya aku sadar kalau lagu itu adalah salah satu lagu yang kukagumi. Mereka sedang bernyayi Ave Maria karya Schubert, bukan bernyanyi tetapi bersenandung. Aku ikut bersenandung sampai mereka menoleh dan menatapku. Oh, ada Helen di antara rombongan itu. Yang lainnya adalah perempuan-perempuan di sekitar hidupku. Tapi mengapa mereka bersama Helen?

Bukankah mereka sudah mati? Wajah dan tatapan bola mata mereka memerah. Aku sadar itu bukan tatapan persahabatan. Aku mencoba tersenyum. Tak ada balasan. Aku diam, tetapi mereka tetap melihatku. Dan,… Oh Tuhan, kini mereka mendekat. Aku melangkah mundur. Ketakutan. Aku takut sekali. Bagaimana mungkin orang berpakaian putih berjalan ke arahku dengan mata merah; dan… ya ampun di tangan mereka kini ada pisau belati mengkilap oleh cahaya yang datangnya entah dari mana. Aku heran dan sempat berpikir, bukankah dalam situasi seperti itu mereka seharusnya berpakaian hitam dan bernyanyi lagu mistis? Sehingga saya tidak usah ikut bernyanyi, dan langsung menjauh?

Aku takut, lari dan kali ini berteriak. Mencoba keluar dari rumah temanku. Teriakanku semakin kencang, karena tiba-tiba bunyi guntur menggelegar, dan di sela suara tak berirama itu aku mendengar suara lain memanggil namaku. Bukan suara perempuan yang bersenandung, tapi suara pria yang setengah teriak, putus asa. Sil..…… Silver……. Oh tidak, kenapa pria itu? Siapa dia? Teman Bontoskah? Tapi kenapa jadi begini? Aku terus berlari, tetapi gelegar semakin jelas terdengar. Namaku tetap disebut, dan aneh mereka, rombongan perempuan itu tetap bersenandung Ave Maria, sedang pria itu tetap memanggil namaku. Kini giliranku yang putus asa. Pasrah, sambil berharap mudah-mudahan mereka bukan malaikat maut.

Dan… Aku terbangun. Terima kasih Tuhan, tadi itu hanya mimpi. Tapi kenapa senandung Ave Maria itu masih terdengar? Kali ini lebih jelas. Dan bunyi guntur itu…….. Kepalaku bergerak liar. Menoleh ke arah meja di kamar kecilku, lalu berpaling ke pintu, lalu tersenyum. Aku tadi bermimpi, tapi sekarang tidak. Lagu Ave Maria Schubert masih tetap terdengar, tapi itu dari telepon selulerku. Alarm-nya memang Ave Maria. Berarti sekarang jam 7 pagi. Bunyi guntur ada, tetapi itu gedoran pintu di kamarku. Lalu ada yang memanggil.

Sil….. Silver…….ada apa? Itu suara temanku. Dia rupanya membangunkan aku. “Santai Tos, aku cuma mimpi buruk. Mungkin karena lama gak sempat istirahat,” jawabku. “Aku emang biasa gitu, mimpinya pasti aneh-aneh kalau udah kelelahan. Trus, kamu gedor-gedor pintuku ada apa?” tanyaku sambil merapikan tempat tidurku. “Ada telfon. Dari temanmu, cewek. Namanya Helen.” “Helen?” “Iya, buruan udah ditunggu lama,” suruhnya dan berlalu. Dia harus kerja. Aku tersentak, terburu-buru menuju pesawat telefon di pojok ruang tamu. “Halo,…..”

Sial, Helen tak cukup bersabar. Sapaanku dibalas dengan dengungan panjang. Telepon teputus. “Tapi apa benar itu Helen?” kata hatiku. “Lalu dari mana dia tahu nomor telfon kontrakan temanku?”

Aku terus mencoba mengingat-ingat, apa pernah aku berikan alamat Bontos ke orang lain. Tetapi semakin aku keras mencoba mengingat, semakin aku yakin tak mungkin seceroboh itu. Aku tidak pernah membocorkan alamat ini ke orang lain. Misi perjalananku dari Manggarai terlalu rahasia untuk dibicarakan dengan banyak orang. Hanya aku, dan beberapa gelintir orang dekatku yang tahu. Dan aku berani pastikan, tak satupun dari mereka yang kenal Helen, Jadi kalau toh yang telfon tadi adalah Helen, maka dia pasti tahu nomor itu bukan dari mereka.

Kriiiiiiiiiiing… kriiiiiiiiiiing,…

Telepon di sudut ruang tamu berdering. Aku ke sana, mendekat tapi ragu. Kuangkatkah telfon itu? Tapi otakku terlambat mengambil keputusan, karena di saat yang sama tanganku sudah bergerak dan… “Halo selamat pagi.” “Pagi Silver, baru bangun ya…” suara renyah terdengar bersih di gagang telfonku. “Kk.. kamu Helen?” “Iya…, kaget ya?” “Lumayan.” “Kamu pasti bingung dari mana aku tahu nomor ini kan?” “Eh… ii.. iya.” “Gini, pas kita lagi di bar kapal, ada kertas kecil jatuh dari saku belakang jins kamu. Tapi kamu ternyata nggak sadar. Waktu itu aku pikir kamu sedang bingung dengan sikapku yang tiba-tiba ramah padahal kita belum kenalan. Trus, waktu aku mau balikin tu kertas, eh kamu malah ke geladak. Ya udah, aku ikutin aja kamu ke geladak. Tapinya lagi, kamu keliatan nggak betah ngomong ama aku. Nggak jadi deh aku balikin tu kertas.” “Trus…? kataku sambil mencoba mengingat-ingat apa isi kertas itu. Sayang, sampai Helen nyerocos lagi aku belum juga bisa ingat isi kertas yang membuat gadis itu tahu nomor telfon temanku Bontos. “Teruus, kertasnya aku buka aja. Eh gak taunya cuma nomor telfon dengan tulisan kecil yang membingungkan. Kamu ingat kan?” “I…iya, sekarang aku ingat,” sahutku dengan nada bergetar. “Tempatku Bersembunyi Dari Kematian” aku bergumam melafalkan kembali tulisan yang aku buat pada kertas kecil berisi nomor telfon Bontos.

Aku memang sedang dalam perjalanan tanpa misi yang jelas. Aku cuma ingin lari dari kepedihan bertubi yang menimpaku akibat kematian orang-orang dekatku. Pertama kakak perempuanku, meninggal akibat kanker payudara ganas. Tak lama berselang, giliran istri pamanku meninggal saat melahirkan, ditolong dukun beranak. Lalu satu persatu wajah-wajah terkasih pergi dan tak pernah kembali. Sampai suatu saat, kematian itu hampir menjemputku. Aku takut, takut sekali pada kematian, juga takut mengetahui dan menyaksikan orang-orang di sekitarku mati. Aku lalu menghindar. Jauh dari peristiwa menyedihkan itu, dan kini di kontrakan temanku sedang menerima telepon.

“Nah itu dia,” datang suara dari seberang telfon. “Tulisan kamu jelas bikin aku bingung. Tapi yang bikin aku penasaran adalah, karena kita sepertinya sama. Sama-sama takut mati.” “Memangnya kamu…” “Iya,… aku memang sedang berusaha menghindar dari kematian. Makanya, karena kita sepertinya senasib, kita sebaiknya ketemu kan?” “Boleh, tapi untuk apa?” tanyaku tolol. “Biar kita bisa jadi teman. Kali aja, kalau dua orang yang menghindar dari kematian itu bisa berteman, maka kematian akan takut menghampiri. Kamu mau kan, Sil? Atau jangan-jangan kamu ada acara hari ini.” “Enggak koq, kebetulan aku gak ada acara. Kalo gitu, kita ketemu di Food Center Tunjungan Plasa jam 10, OK?”

Jam 09.33 Waktu Sidoarjo Aku baru selesai dandan, ketika telfon di ruang tamu berdering. Sial, padahal aku sudah siap-siap ke Tunjungan Plasa. Bertemu Helen, sambil nikmati dunkin donuts. “Halo.” “Silv, ini Bontos!” suara dari ujung telfon. “Ada apa, Tos?” “Aku di kantor polisi sekarang. Tadi mobilku dipinjem temen kantorku. Trus, pas di sekitar Tunjungan, temenku nabrak satu perempuan yang mau nyebrang.” “Lalu?” tanyaku tolol. “Ya, aku sepertinya gak bisa pulang sekarang. Urusannya masih lama sampai mobil aku keluar. Jadi kalo laper, kamu bisa cari sendiri kan. Warung di ujung gang itu langgananku. Udah ya…” “Eit entar dulu, Tos…” “Ada apa lagi toh..?” “Kamu tau gak nasib dan nama korban,” tanyaku ragu. “Emang kenapa?” “Ngng ... Nggak apa-apa kog, tapi perasaanku agak aneh aja.” “O…, kata Polisi sih korbannya langsung meninggal di lokasi kejadian. Namanya Helena Puji Astuti. Udah ya!” Sambungan telpon terputus. Gagang telfon masih dalam genggaman. Mendadak dunia di sekitarku berputar kencang. Temaram lalu gelap. Entah berapa lama aku pingsan. Saat bangun, tak ada yang berubah di sekitarku. Juga kenyataan bahwa kematian tak pernah jauh dari sisiku.

Sumber : Kompas Indonesia

ASAL USUL BAHASA INDONESIA



Bahasa Melayu diketahui sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam bukunya Sedjarah Bahasa Indonesia, mengutarakan bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga untuk dipakai di Nusantara.

Menurut Alisjahbana, persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh para pelaut pengembara dan saudagar yang merantau ke mana-mana. "Bahasa itu adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh di kalangan penduduk Asia Selatan," tulisnya. Faktor lain, bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari.

Pada era pemeritahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal . Persaingan antara bahasa Melayu dan bahasa Belanda pun semakin ketat. Gubernur Jenderal Roshussen mengusulkan bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat.

Meski demikian, ada pihak-pihak yang gigih menolak bahasa Melayu di Indonesia. Van der Chijs, seorang berkebangsaan Belanda, menyarankan supaya sekolah memfasilitasi ajaran bahasa Belanda. JH Abendanon yang saat itu Direktur Departemen Pengajaran, berhasil memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru pada 1900.

Akhirnya persaingan bahasa ini nampak dimenangkan oleh bahasa Melayu. Bagaimanapun bahasa Belanda ternyata hanya dapat dikuasai oleh segelintir orang. Kemudian di Kongres Pemuda I tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk dikembangakan sebagai bahasa dan sastra Indonesia.

Pada Kongres Pemuda II 1928, diikrarkan bahasa persatuan Indonesia dalam Sumpah Pemuda. James Sneddon, penulis The Indonesia Language: Its History and Role in Modern Society terbitan UNSW Press, Australia mencatat pula kalau butir-butir Sumpah Pemuda tersebut merupakan bahasa Melayu Tinggi. Sneddon menganalisis dari penggunakan kata 'kami', 'putera', 'puteri', serta prefiks atau awalan men-.

20 Oktober 1942, didirikan Komisi Bahasa Indonesia yang bertugas menyusun tata bahasa normatif, menentukan kata-kata umum dan istilah modern. Pada 1966, selepas perpindahan kekuasaan ke tangan pemerintah Orde Baru, terbentuk Lembaga Bahasa dan Budaya di bawah naungan Departemen Pendidikan Kebudayaan. Lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Bahasa Nasional pada 1969, dan sekarang berkembang dengan nama yang dikenal, Pusat Bahasa.

Tanggung jawab kerja Pusat Bahasa antara lain meningkatkan mutu bahasa, sarana, serta kepedulian masyarakat terhadap bahasa.

RAHASIA TELEPATI ANJING



Anjing diakui memiliki kemampuan telepati bawaan sejak lahir. Hal tersebut dibuktikan oleh Dr. Monique Udell bersama timnya dari Florida University.

Para pemilik anjing seringkali mengatakan bahwa hewan peliharaan mereka memiliki kemampuan luar biasa layaknya telepati untuk memahami pemiliknya yang sedang kelelahan, depresi, dan kesakitan. Anjing tetap bisa mengenali meskipun pemiliknya berusaha menyembunyikan tanda-tanda kelelahan, depresi, dan sakit.

Temuan terbaru para ahli membuktikan bahwa fenomena tersebut merupakan kemampuan yang diperoleh secara alamiah, bukan sesuatu yang didapat melalui proses pembelajaran. Mereka membuktikannya melalui sebuah eksperimen yang menggunakan dua kelompok anjing, satu kelompok anjing yang sudah dijinakkan dan satu kelompok serigala, kerabat dekat anjing yang hidup di alam secara liar.

Dr Monique Udell bersama timnya dari Florida University menguji kedua kelompok hewan itu dengan cara memberikan kesempatan kepada mereka untuk meminta makanan, baik dari orang yang perhatian maupun orang yang berpotensi mengabaikan mereka.

Pada eksperimen tersebut, para ahli menemukan untuk pertama kalinya serigala, sebagaimana anjing peliharaan lainnya, mampu meminta makanan dengan mendekati orang yang perhatian. Ini menunjukkan bahwa kedua spesies, baik peliharaan maupun non peliharaan mempunyai insting "telepati" untuk berperilaku sesuai dengan tingkat perhatian manusia.

Dengan demikian, para ahli menyimpulkan bahwa kedua spesies itu memperoleh kemampuan "telepati"nya sejak lahir. Karena serigala tidak terlatih seperti anjing yang sudah dijinakkan yang bisa meminta makanan kepada tuannya pada saat-saat tertentu. Anjing memiliki kemampuan yang lebih baik hanya karena mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama manusia.

AKU AYAHMU, ANAKKU



Kau terlalu nakal dan bidadari pengasuhmu itu terlalu sayang padamu hingga untuk memukul pantat permaimu atas kenakalanmu itu saja dia tidak akan tega.

Aku adalah ayahmu, Anakku. Aku tak tahu bagaimana atau dengan bahasa seperti apa engkau dan kawan-kawan sepermainanmu di sana menyebutnya. Ayahmu inilah seorang lelaki yang akan menjadi lantaran bagi kelahiranmu ke dunia. Seorang lelaki yang diberi kepercayaan Tuhan untuk menaburkan benih-benih cinta dalam rahim ibumu yang gembur dan subur. Ah, aku pun tak tahu bagaimana caramu dan kawan-kawan sepermainanmu menyebut seorang ibu di sana, tetapi dia adalah perempuan yang akan memberi perlindungan bagi benih yang bertumbuh di rahimnya dari ruhmu kemudian merawat dan menyianginya dengan penuh kasih sayang setulus kemampuan dan hidupnya hingga sempurnalah engkau.

Dengarkanlah ceritaku karena suatu ketika ibumu itu telah berkata kepada ayah: “Aku telah hampir menjadi demikian lelah sehingga bermacam pikiran masuk ke dalam otakku. Yang paling buruk dari itu semua adalah: apakah aku harus memancangkan tinggi-tinggi selebar panji bertuliskan Aku Bukanlah Perempuan Seutuhnya?”

Aku tentu tidak akan bertindak bodoh dengan menanggapi kata-kata yang hanya berupa pelampiasan dari rasa putus asanya itu. Kau tahu apa yang aku lakukan saat itu? Ayahmu ini hanya tertawa dan mengatakan padanya: “Jangan bodoh! Mana ada bukan perempuan seutuhnya yang secantik engkau?” Lalu ibumu itu mengembang tangis. “Jangan mengigau, hanya membuatku bertambah parah!” katanya memelas, air matanya telah berlinangan. “ Lalu kenapa bukan perempuan seutuhnya seperti engkau bisa menangis dan berkeluh kesah justru selayaknya perempuan seutuhnya?”

Ibumu terdiam, Anakku. Mungkin dipikirnya kata-kata ayah ada benarnya. Justru sepertinya kini dia merasa menjadi perempuan seutuhnya karena telah menunjukkan perasaan sedih dan melankolis yang sejatinya lebih banyak dimiliki perempuan. Seorang lelaki seperti ayah mungkin pula dapat menjadi melankolis dan tidak mampu menyimpan terlalu rapat kesedihannya, tetapi seorang lelaki adalah tetap seorang lelaki dengan pedang dan bara api sebagai perlambang, selemah apapun dia.

“Kau hanya melihat dirimu dari sudut pandang yang kau ingini saja. Jika kau berdiri di alasku, sebagai aku, kau akan mengatakan bahwa perempuan seutuhnya bukanlah perempuan yang tidak mampu beranak. Kau pikir perempuan hanya seekor Ratu Rayap yang lahir, beranak dan kemudian mati? Tentu saja bukan, karena engkau lahir, bertumbuh melalui proses sedemikian lama, bersekolah di sekolah manusia, menemukan pasangan dan lalu menikah. Kau tahu Ratu Rayap, bukan? Dia hanya mampu berbaring sepanjang hari dengan perut yang besar dan berisi telur-telur bakal anaknya. Dan kau tahu siapa yang membuahinya? Ah, aku tak mau membuatmu ngeri. ”

Ibumu lalu tertawa dan justru air matanya itu menjadi tumpah sama sekali mengaliri kedua pipinya yang permai. Ah, Anakku, kau harus melihat jika dia tertawa. Sungguh tak ada bedanya dengan seorang bidadari pengasuhmu yang tercantik dan mungkin menjadi favoritmu dan sering kau godai dengan menarik-narik anak rambut dekat telinganya atau kau gigit ibu jarinya. Kemudian jika dia berpura-pura marah dan lari mengejarmu kau dengan senang hati membuatnya lelah dengan berputar-putar di bawah sebatang pohon surga sambil berteriak-teriak: Tangkap aku! Tangkap aku!

Anakku, kukatakan kepadamu, ibumu akan dengan senang hati pula mengejarmu jika kelak engkau mencoba lari dari pondongannya setelah kau ganggui pula. Aku jamin yang demikian itu. Lalu yang terjadi kemudian kau pasti akan bersembunyi di belakang tubuhku, tapi aku berpura-pura tidak melihatmu dan ibumu hanya mendapatkan bagian depan tubuhku, tapi dia akan menyembunyikan tawanya dan tetap berpura-pura kehilanganmu untuk menyenangkan hatimu. Itu salah satu bayangan tentang kebersamaan kita kelak. Indah, bukan? Semoga waktu itu akan cepat datang karena akupun telah tak sanggup bersabar lagi kecuali jika memang aku harus tetap bersabar. Musim demi musim yang bahagia ataupun putaran bumi yang membosankan telah aku lalui bersama hanya dengan ibumu. Tidakkah kau melihatnya dari ketinggian dan berkehendak untuk mempercepat waktu yang akan datang kelak dan berada di tengah-tengah kami?

Anakku, aku adalah ayahmu. Kau boleh coba membuktikannya dengan mengumpulkan semua kawan sebayamu yang senantiasa bermain-main denganmu di sana, di antara rasa segan dan jenuh menunggu titah Tuhan untuk turun ke dunia dan berdiri berjajar di hadapanku. Kalian pun boleh memasang banyak ekspresi yang kalian mampu untuk mengelabuiku dan aku akan tetap dapat menunjukmu dengan jitu. Kalian, kau pun anakku, boleh menyangkalnya untuk memberikan ujian yang lebih sulit kepadaku walaupun aku telah memilihmu, tapi aku tidak akan sedikitpun menjadi ragu karena aku tahu dan yakin akan hatiku yang telah benar-benar terikat takdir Tuhan padamu. Aku akan mengenali raut wajahmu, hapal aroma tubuhmu, menemukan pahatan-pahatan kalam Tuhan yang menunjukkanmu padaku dari tiap serat rambutmu. Atau perlu kubawa ibumu serta? Karena seorang ibu akan dapat mengenali buah hatinya dengan mata tertutup saja. Dia jelas akan lebih lihai daripada ayah, seperti seorang petani mengenali angin musim dan perubahan cuaca. Dengan doa pun dia terasa lebih akrab dari siapapun yang pernah berdoa hingga aku pernah berkata kepada ibumu:

“Jauhkanlah prasangka burukmu kepada Tuhan.” Ibumu hanya memandangku tidak mengerti. “Apa maksudmu?” “Jauhkan prasangka burukmu kepada Tuhan.” “Aku tidak berprasangka buruk kepada Tuhan. Kenapa kau mendugaku seperti itu?” “Bukankah di setiap lima waktumu dalam satu harinya kau sibukkan untuk berbicara kepada Tuhan? Meminta dan meminta agar anak yang masih di dalam surga itu Dia tiupkan ruh-nya segera ke dalam rahimmu?” “Apakah dengan begitu aku berprasangka buruk kepada Tuhan?” “Ya, kau pikir Dia tidak mendengarmu karena itu kau selalu mengulang-ngulang doa yang sama. Dan bukan hanya itu, jika kau kelak akan bosan, bukankah akhirnya kau pun akan berlari menjauhi-Nya? Lagipula, berapa banyak yang kau lalaikan hanya untuk meminta yang satu itu?” “Aku tak akan pernah bosan.” “Tetapi kau sering menangis di hadapanku dan berkeluh kesah. Bukankah itu merupakan pertanda bahwa kau telah bosan?” Ibumu hanya diam, Anakku. Seperti biasanya. “Panggillah dia lewat hatimu, buah hati yang kau dambakan itu. Mungkin saja Ruh bakal anakmu itu terlalu nakal dan selalu bersembunyi ketika giliran waktunya telah tiba untuk menjadi mahluk malang yang bernama manusia. Mungkin dunia ini terlalu menakutkan baginya dan dia lebih memilih berlama-lama di ribaan Tuhan.”

Apakah demikian, Anakku? Karena ayah pun tak pasti dan hanya membual di hadapan ibumu. Menurutku itu lucu, tapi memang bisa jadi benar. Kau terlalu nakal dan bidadari pengasuhmu itu terlalu sayang padamu hingga untuk memukul pantat permaimu atas kenakalanmu itu saja dia tidak akan tega.

Jika memang benar demikian, Anakku, akupun harus memukul kedua pantat permaimu itu karena kau tidak memiliki kepercayaan kepada kami: aku dan ibumu. Kau pikir ayahmu ini tidak akan sanggup membimbing sekaligus menjagamu? Merawatmu sejak kau keluar dari perut ibumu, memberikan segala yang kau butuhkan hingga engkau dapat mengginginkannya sendiri walaupun dengan menangis, menjauhkanmu dari hal-hal buruk dunia dan menyiapkanmu sebagai manusia yang baik kelak?

Memang, Anakku, dunia yang kini aku dan ibumu tinggali adalah dunia yang tidak akan bisa dibandingkan dengan tempat yang kau diami sekarang. Dunia yang kami tempati sekarang adalah dunia yang berbahaya dan menakutkan di mana kebaikan menjadi satu keping terkecil dari sebuah bulatan bernama keburukan. Tetapi yang sekeping kecil itu sebenarnyalah lebih berat timbangan nilainya dari seseluruhan keping yang besar. Sungguh, ayah akan menjadikanmu bagian dari kepingan yang kecil itu. Aku bersumpah dengan segala kemampuan dan kekuatanku. Apa lagi yang kau tunggu? Bukankah ayah telah bersumpah?

Aku adalah ayahmu, Anakku, maka dengarkanlah. Tidakkah kaupun selalu dapat mendengarkan ataupun mencuri dengar doa-doa ibumua yang di bawa malaikat menuju Sidratul Muntaha di waktu-waktunya? Pun harapan-harapan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan dari seorang perindu seperti aku, ayahmu?

Sebenarnyalah telah basah sajadahku, kuyup alas tidurku karena air mataku. Air mata yang kusembunyikan dari ibumu agar dia tak menganggapku seperti lelaki yang bukan lelaki seutuhnya. Karena sungguh, aku tak mampu melihatnya mengulum kesedihannya di mana sebenarnya aku dapat memberikan satu ketenangan padanya, cukuplah aku dengan tangisanku sendiri. Aku telah merasa cukup banyak berdoa pada Tuhan dan aku yakin sebenarnya semua itu telah di dengar-Nya dan aku malu untuk meminta lebih banyak lagi.

Aku memohon kepadamu, hadirlah. Beri kebahagiaan bagi ayah dan ibumu. Atau jika semua itu belumlah cukup, beri kami kepastian atau suatu pertanda agar lebih besar lagi harapan kami akan kepastian yang kelak akan datang itu. Aku adalah ayahmu, Anakku, maka sangat wajar jika aku sering memimpikanmu bahkan bukan hanya di salah satu dari waktu tidurku. Ayah pikir, itu adalah salah satu pertanda bagi kehadiranmu kelak, entah kapan. Seperti engkau berkata: “Ayah, bersabarlah.”

Ayah telah sangat bersabar, Anakku, pun ibumu. Dan ayah akan tetap mencoba bersabar jika memang kepastian itu benar-benar akan datang. Beberapa putaran waktu lagi atau sampai memutih rambut dan renta tubuhku pula ibumu, kami akan bersabar. Tetapi sungguh, batas antara sabar dan tidak itu tidaklah begitu tebal sehingga tidak sukar bagi kami untuk meretasnya. Mungkin kau belum tahu jiwa manusia yang rapuh seperti daun-daun kering, begitulah mungkin jika nanti kaupun mewujud kamanungsan. Ibumu pun tanpa pernah disangka-sangka berkata suatu waktu: “Aku sering memimpikannya bahkan di saat bukan salah satu dari waktu tidurku.” Ayah terkejut karena ibumu pun memimpikan hal yang sama. “Ah, bukankah dia hanya menyuruhmu untuk bersabar?” “Tidak.” “Lalu?” Ibumu memeluk ayah dan berbisik di kuping dengan lembut:

“Kebahagiaan akan datang. Entah itu segera, entah itu di waktu yang tidak pernah kita bayangkan, atau jika kita telah tidak berada lagi di dunia….entah, entah dan berapa entah lagi. Tapi akan datang. Sungguh akan datang.” Kali itu ayahlah yang terdiam, Anakku. Entah itu adalah pertanda darimu, apa atau bagaimana, aku yakin kau telah memberinya keyakinan dengan caramu, dengan persetujuan Tuhan tentunya. Ayahpun tidak akan khianat dengan hati ayah bahwa ayah benar-benar percaya akan pertanda itu, tapi tanpa pernah pula menafikan rasa tidak sabar yang sering muncul menggebu-gebu. Ayah toh hanya manusia biasa.

Anakku, aku adalah ayahmu. Aku tak tahu bagaimana dan dengan bahasa seperti apa engkau dan kawan-kawan sepermainanmu di sana menyebutnya, tetapi aku adalah seorang lelaki yang menjadi lantaran bagi kelahiranmu ke dunia. Seorang lelaki yang tidak mampu menahan rindu seperti dia menahan sebuah beban yang paling beratpun di pundaknya. Seorang lelaki yang sangat sangat sangat mencintai perempuan itu, ibumu, perempuan yang aku tak tahu pula bagaimana dan dengan bahasa seperti apa engkau dan kawan-kawan sepermainanmu di sana menyebutnya, perempuan yang akan memberi perlindungan bagi benih yang bertumbuh dari ruhmu di rahimnya dan kemudian menyianginya dengan penuh kasih sayang. Kami berdua mengidap satu perasaan yang sama: hanya merindumu, tapi kuasa Tuhan pulalah yang mampu memberikan kami kekuatan untuk sekedar meredam kerinduan itu.

Sepanjang waktu dan musim yang berlalu, harapan dan kerinduan akan selalu mengemuka, tetapi kau anakku, adalah penawar bagi segala jenuh dan kesedihan yang mengiringinya jika kelak engkau benar-benar mewujud. Dengan ketiadaanmu kini aku justru teramat sangat yakin bahwa engkau sebenarnya ada.

Kini hanya cukup dengan bayang dan mimpi kita bercakap, cukup dengan kerinduan dan air mata kita bertemu karena akan datang kebahagiaan itu, saat di mana darah ibumu akan memancar dengan pertaruhan akan hidup dan matinya untuk mewujudkan hadirmu. Melahirkanmu.

Aku adalah ayahmu, Anakku. Seorang perindu yang selalu akan menantimu tidak dengan asa yang terbatas. Semoga, Nak. Semoga.

Sumber : Kompas Indonesia

SAMPAN YANG TAK LAGI TERKAYUH



Pikirannya terbang ke masa silam, hampir dua tahun yang lalu, saat kisruh kenaikan BBM melanda negeri ini. Di saat sore yang merangkak enggan, saat ia berbincang dengan mendiang suaminya.

Senja mulai tua. Langit mulai berwarna biru pekat kekuningan, terbias matahari yang memancarkan kehangatan khas sore hari. Camar laut berterbangan menimbulkan suara bising di udara. Sebagian ada yang pulang, sebagian lagi masih sibuk memburu ikan-ikan yang malang. Tapi sosok perempuan setengah baya itu masih belum beranjak dari tempat duduknya pada sepotong kayu bekas pohon kelapa yang tumbang. Masih mematung menghadap lautan. Tatapan kosongnya masih mengarah pada gulungan ombak yang tak henti berkejaran, gemuruh menerjang batu karang. Kerudungnya yang terlihat lusuh, tak rapi lagi karena hembusan angin laut, tersibak, memperlihatkan rambut usangnya. Ia tak bergeming, tetap saja mematung dengan mata sayu menerawang. Hanya anak laki-laki kecil berumur lima tahunan dalam pangkuannya yang tak henti mengoceh sambil mempermainkan kupu-kupu kertas.

Linah, nama perempuan itu. Umurnya belumlah terlalu tua di usianya yang menginjak empat puluh lima tahun. Beban pikiranlah mungkin yang membuatnya seperti itu. Tatapan kosongnya masih menerawang ke tengah samudera. Menyiratkan suatu harapan besar pada perahu-perahu kecil di kejauhan sana. Masih tersirat sebuah harapan untuk menunggu anak pertamanya pulang dari menjala ikan. Samsul nama anak itu. Masih sangatlah muda untuk menjadi seorang nelayan. Umurnya yang belum genap menginjak angka lima belas tahun. Tapi dia nekad berjuang dengan ombak dan badai untuk hanya sekedar menyambung sebuah jalan atas nama kehidupan.

***

Linah mungkin patut bangga kepada anaknya. Dia mampu memahami kondisi keluarganya yang lambat laun mulai terasa rapuh. Sekilas matanya meneteskan air mata yang tak lagi segar. Matanya terlalu lelah untuk terus mengeluarkan air mata kesedihan. Pipinya tak lagi bisa merasakan basah air mata itu. Dia masih terduduk. Di sepotong kayu bekas pohon kelapa pinggir pantai itu, sudah beberapa hari ini Linah menghabiskan waktu sorenya untuk menunggu kedatangan anak sulungnya itu pulang dari menjala ikan. Sudah hampir tiga hari Samsul menjala ikan di tengah lautan. Jangankan batang hidungnya, bayangan perahunya saja tak pernah nampak dari pandangannya untuk merapat di pinggir pantai dekat rumahnya.

”Kemanakah kau nak, Kenapa kau belum pulang juga?” hatinya meratap dalam dingin. ”Aku tak kan membiarkamu untuk pergi lagi nak. Biarlah kita hidup dalam kemiskinan, asalkan kau selalu ada disisiku,” ratapnya makin dalam.

Tak jauh dari tempat dia duduk. Berdiri sebuah rumah kayu yang lebih pantas disebut gubuk. Disanalah dia bersama anaknya berteduh dari panas dan hujan. Di sanalah dia menyandarkan kehidupan yang dirasa makin sulit untuk dimengerti. Tak ada kursi, tak ada lemari. Bahkan sekat-sekat kamarpun tak nampak di rumah gubuknya itu. Hanya satu ruangan kecil di sudut, sebuah kamar mandi. Terlihat beberapa helai anyaman daun kelapa yang dia gunakan untuk sekedar duduk dan beristirahat. Serta nasi dan ikan-ikan kering di atas lembaran koran di sudut lainnya sebagai makanan pokoknya selama ini.

Titian waktu terasa begitu merambat pelan, seolah mengejek setiap jengkalan pengharapan di angannya. Dadanya sudah tak bisa lagi merasakan sesak atas apa yang dia terima dari sepenggal kisah hidup yang telah dijalaninya. Sepercik harapan selalu terbersit tatkala pagi mulai turun menyapa tanah. Mengharap anaknya, Samsul, datang menambatkan perahunya di bibir pantai dengan keadaan selamat. Memang tak ada lagi doa yang selalu dia panjatkan setiap hari, sehabis shalat, selain keselamatan untuk anak sulungnya itu. Baginya keselamatan jauh lebih berharga dari hanya sekedar hasil tangkapan yang berlimpah. Bahkan Linah pernah berjanji pada sepotong doanya. Ia tak akan membiarkan anaknya itu untuk pergi melaut lagi sebelum dirasa umurnya mencukupi untuk berjuang dengan gelombang badai di tengah laut sana.

***

Pikirannya terbang ke masa silam, hampir dua tahun yang lalu, saat kisruh kenaikan BBM melanda negeri ini. Di saat sore yang merangkak enggan, saat ia berbincang dengan mendiang suaminya.

”Aku berjanji, anak kita tak akan ku biarkan menjadi nelayan miskin seperti kita kelak bu” potongan kalimat mendiang suaminya itulah yang selalu menghantui alam pikiran Linah selama ini. ”Tapi pak, apa yang bisa kita perbuat, ditambah dengan keadaan ini, BBM naik, sedang hasil tangkapam ikan kita tidak seberapa.” ”Kelak, aku ingin melihat anakku seperti para mahasiswa yang sering mengadakan penelitian di desa kita bu, pintar, cerdas, dan bisa membuat perubahan.” ”Tapi dengan apa kita menyekolahkannya pak.” ”Dengan tekad bu, dengan niat dan kesungguhan kita.” ”Tapi...” ”Sudahlah bu, nanti malam aku akan pergi melaut, semoga hasil tangkapan malam ini bisa berlimpah. Dan besok aku akan ikut warga untuk berdemo menolak kenaikan BBM di depan DPRD.” ***

Di tengah keheningan yang bergelayut, Linah sering meratapi nasib yang menderanya. Masih terbayang jelas kejadian yang menimpa dia dan keluarganya pada malam kepergian suaminya melaut. Karena ternyata percakapan sore itu adalah percakapan terakhirnya dengan mendiang suaminya. Linah harus menerima kenyataan pada sore keesokan harinya suaminya harus pulang dalam keadaan tak bernyawa, karena terjadi kerusuhan dalam aksi demo.

Saat itu, Linah tak tahu harus berbuat apa demi masa depannya, terlebih masa depan anak-anaknya. Kesedihan tak kan merubah segalanya. Air mata hanya akan menjadi tetesan kering tanpa makna. Jelata hanya akan menjadi sebuah keabadian untuk orang seperti dia. Perlahan dia mulai menata kehidupan barunya, meskipun harus tertatih. Dan, hampir tiga hari yang lalu. Samsul mengutarakan niatnya dan nekad pergi melaut dengan harapan bisa menggantikan bapaknya sebagai pencari nafkah di keluarga. Dia pernah berujar pada Linah, ingin mewujudkan cita-cita almarhum bapaknya. Paling tidak, masih ada satu harapan yang tersisa. Hati Linah terenyuh. Sungguh dia tak mampu menahan keinginan Samsul yang begitu kuat, meskipun sejuta kecemasan terlihat dari buliran air matanya saat melepas Samsul perlahan mengarungi deruan ombak dengan perahu milik almarhum bapaknya.

Tak ada hari yang Linah lewatkan untuk tidak memandangi lautan. Masih dengan berjuta kecemasan. Masih dengan berjuta pengharapan. Hanya rasa yakin yang bisa menghibur hatinya untuk bisa kembali melihat Samsul pulang dalam keadaan baik.

Namun hingga kini, bayangan perahunya saja belum menampakkan diri di tengah lautan. Dan Linah masih setia menunggu anak pertamanya itu pulang dengan iringan doa yang tak henti-hentinya ia panjatkan demi keselamatan anaknya itu. Masih terduduk di bekas sebatang pohon kelapa yang tumbang dengan kerudung lusuhnya. Masih tegar dengan hembusan angin pantai yang mempermainkan rambut usangnya. Masih sabar menanti dengan iringan riuh suara camar dan gulungan ombak yang sebagian menerpa batu-batu karang. Dan, entah kapan semuanya akan berakhir.

*** Angin berdesir saat pagi mulai turun merangkak, di pesisir pantai lain nun jauh di sebelah barat. Diantara batu-batu karang, tampak perahu nelayan yang tertambat secara terpaksa, bagai pasrah menerjang karang. Beberapa meter dari perahu banyak orang berkerumun. ”Ada apa pak?” tanya seorang laki-laki paruh baya pada nelayan yang baru saja keluar dari kerumunan. ”Ada mayat pak, remaja, tersangkut diantara karang,” jawab nelayan itu ”Innalillahi.”

Sumber : Kompas Indonesia