Hallo Teman-teman Semua Apa Kabarnya? Kunjungi terus dan Tinggalkan Komentar membangun yia di Blog Aku! :) :)

KANG SHALEH NAIK BECAK "MENUJU SURGA"



Pada hari penghisaban (penghitunngan atas amal perbuatan manusia) sedang mengantre empat orang manusia dengan berlainan profesi sewaktu masih hidup di dunia.

Manusia pertama bernama Alim, yang konon sewaktu masih hidup di dunia adalah seorang kyai yang sangat terkenal keluasan ilmunya dan kesalehan ibadahnya serta mempunyai ribuan santri.

Manusia kedua bernama Somad, yang mana sewaktu masih hidup di dunia berprofesi sebagai Kepala Desa yang sangat disayangi oleh warganya karena kejujuran dan keadilannya.

Manusia ketiga bernama Badri, dimana sewaktu hidupnya merupaka seorang juragan yang sangat kaya raya serta terkenal pula kedermawanannya dan kemurahan hatinya dalam menolong dan membantu orang-orang yang kesusahan.

Manusia keempat bernama Soleh, yaitu ketika hidupnya adalah merupakan seorang tukang becak yang biasa mangkal di terminal.

Keempatnya sewaktu didunia tinggal di desa yang sama, meskipun bukan tetangga yang saling berdekatan rumahnya.

Dan kebetulan pula kematian merekapun hampir bersamaan waktunya, meskipun dari sebab yang berbeda-beda.

Kyai Alim, meninggal dunia karena sakit sepuh (tua) karena beliau memang ditakdirkan Allah SWT berusia lanjut, hingga kira-kira 95 tahun.

Lurah Somad, meninggal karena terbunuh oleh seorang pesaing politiknya yang iri dengki melihat pengaruh Lurah Somad yang demikian kuat pada semua warganya. Pesaingnya ini merasa dendam akibat dikalahkan sewaktu PILKADES, padahal dia sudah mengelurakan uang demikian banyak untuk menyuap dan membayar penduduk supaya memilihnya.

Haji Badri (demikian biasanya orang menyebutnya), meninggal akibat sakit komplikasi yang membuatnya harus menginap selama sebulan di sebuah rumah sakit ternama di sebuah kota besar ibukota provinsi.

Kang Soleh, meninggal dunia disebabkan karena kecelakaan di jalan raya, dimana sewaktu kang Soleh pulang dari mangkalnya di terminal, ditengah perjalanan sebuah truk tronton dengan kecepatan tinggi menabraknya dari belakang yang mengakibatkan dia tewas seketika di jalan itu.

……………………………….

Ketika itu yang mengantri paling depan adalah Kyai Alim.

Maka berkatalah Malaikat penghitung kepadanya:

“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” demikian Malaikat berkata sambil membentak.

“ Perkenalkan, nama saya Alim, selama hidup saya adalah seorang kyai yang wara’, zuhud dan ‘alim serta selalu mengamalkan dan mengajarkan ilmu saya kepada banyak sekali murid di pesantren saya, seumur hidup saya selalu membaktikan diri saya untuk agama dan umat, kenapa saya mesti masuk neraka ?“ Kyai Alim berupaya memprotes.

“ Iya betul, tetapi dalam setiap amaliyahmu selalu terselip perasaan ujub, kau selalu merasa paling alim, paling wara’, paling zuhud, paling khusyuk, maka kau tak pantas masuk syurga, karena sifat ujub adalah bagian dari kesombongan, tempatmu adalah neraka, maka pergilah kau kesana!”, Malaikat membentak, lalu melemparkannya ke neraka.

Pengantri yang kedua adalah Lurah Somad, yang kemudian dipanggil pula untuk menghadap.

“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” Malaikat berkata kepada Lurah Somad.

“ Lho kok bisa begitu Malaikat ? “ protes Lurah Somad.

“ Padahal selama hidup saya tidak pernah maksiyat kepada Allah, saya selalu menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh, dan juga sewaktu menjadi Kepala Desa saya selalu bersikap adil, jujur, amanah, mengayomi seluruh rakyat saya, mensejahterakan kehidupan mereka serta menjadikan desa saya adil, makmur dan sejahtera”, jelas Lurah Somad membela diri.

“ Benar Lurah Somad, tetapi perlu kau ketahui bahwa dibalik sikap adilmu dan pengayomanmu kepada rakyatmu karena engkau kepingin terkenal, kepingin masyhur, dan kepingin dipuja-puja oleh rakyatmu, agar melanggengkan kekuasaanmu, sifat seperti ini adalah bagian dari kesombongan, dan kau harus masuk neraka !”, dengan bengis Malaikat berkata, kemudian menyeretnya menuju neraka.

Berikutnya yang datang menghadap adalah Haji Badri.

“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” bentak Malaikat kepada Haji Badri.

“ Mohon maaf Malaikat yang terhormat, mengapa saya harus masuk neraka, dahulu sewaktu masih hidup didunia, saya seorang yang dermawan, hampir seluruh harta saya belanjakan di jalan Allah, untuk berzakat, infaq dan sedekah, pendeknya setiap orang yang membutuhkan uluran tangan saya selalu saya bantu, hutang piutang mereka saya lunaskan, kesulitan mereka saya mudahkan”, Haji Badri mencoba menerangkan.

“ Ketahuilah wahai Haji Badri, semua kedermawananmu itu sia-sia belaka, karena kau menyembunyikan perasaan riya’, pamer dan mengharapkan pujian dari manusia lain, dengan demikian kau telah berbuat kesombongan, maka dari itu tempatmu adalah neraka !”, sambil berkata demikian Malaikat membuang Haji Badri kedalam neraka.

Kemudian datanglah kang Soleh dengan mengendarai becaknya mengantri dihadapan Malaikat.

“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu pantas masuk syurga !” Malaikat berkata dengan lembut kepada kang Soleh.

“ Karena dibalik kemiskinannmu kamu tidak berputus asa dari rahmat Allah, kamu selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh, serta semua ibadah yang kamu lakukan dilandasi rasa ikhlas semata-mata kepada Allah, maka dari itu Allah mengganjarmu dengan syurga-Nya “, Malaikat melanjutkan penjelasannya.

“ Terima kasih wahai Malaikat, tetapi saya tidak mau masuk syurga kalau Kyai Alim juga tidak masuk syurga !”, kata kang Sholeh.

“ Lho kenapa ?”, tanya Malaikat.

“ Sebab, saya bisa tahu cara beribadah, saya belajar teori keikhlasan adalah karena saya berguru dan mengaji kepada Kyai Alim, maka saya tidak mau masuk syurga jika guru saya Kyai Alim tidak dimasukkkan ke syurga !”, harap kang Sholeh.

“ Baik, baik, atas kemurahanmu, Kyai Alim boleh masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.

“ Iya tetapi saya tetap tidak mau masuk syurga, jika Lurah Somad tidak masuk syurga “, kang Sholeh menyanggah lagi.

“ Lho ada apa ini ?”, heran Malaikat.

“ Karena berkat keadilan Lurah Somad serta perlindungannya kepada kaum miskin seperti saya, maka saya merasa hidup tentram dan nyaman di desa itu, maka saya mohon agar Lurah Somad bisa masuk syurga bersama saya “, kang Soleh memohon.

“ Boleh, boleh, berkat kemurahanmu pula, Lurah Somad bisa masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.

“ Malaikat boleh tidak aku minta satu permintaan lagi ?”, tanya kang Soleh.

“ Apa permintaanmu selanjutnya ?”, balik tanya Malaikat.

“ Aku minta Haji Badri, dimasukkan syurga pula bersamaku ,” jawab kang Soleh.

“ Apa alasan yang kamu ajukan, mengajak Haji Badri ke syurga bersamamu ?”, kembali Malaikat bertanya.

“ Karena Haji Badri sering kali membantuku jika aku kesulitan, dan harap diketahui wahai Malaikat, bahwa becak yang merupakan saranaku mencari rejeki dengan halal di jalan Allah ini merupakan pemberian dari Haji Badri, demikian harap kiranya Haji Badri dimasukkan syurga bersama saya ,” harap kang Soleh.

“ Baik, baik, sebab kemurahanmu kalian berempat boleh masuk syurga bersama-sama “, demikian Malaikat menutup persidangan empat orang tersebut.

Lalu mereka berempatpun bersama-sama naik syurga dengan membonceng becak kang Soleh, yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. (Wallaahu A’lam Bishowab)

CERITA "KUCING HITAM"


Dengan mengendap-endap aku melompat dari jendela kamarku, sore ini aku mempunyai janji dengan Dara gadis manis tetangga sebelah yang kukenal secara tak sengaja di taman kota. Sudah dua minggu ini aku menjalin hubungan rahasia dengan dia. Tak seorangpun kuberi tahu, termasuk juga nyonyaku. Sebab nyonyaku termasuk tipe wanita yang agak cerewet, aku dilarangnya bergaul dengan sembarangan teman, bahkan untuk keluar rumahpun terkadang aku dilarangnya.

Senja ini langit tampak cerah, angin sepoi-sepoi mengecup dedaunan yang menari indah, burung-burung gereja melayang pulang ke rumah, pohon-pohon akasia yang tumbuh rindang ditepian jalan berdiri dengan gagah, menatap lalu lalang kendaraan dari segala arah, dan wajah kota tengah berdandan menyambut malam dengan penuh gairah.

Aku berlari-lari kecil sambil bersiul, mendendangkan lagu-lagu yang sedang gaul. Dimataku terbayang wajah si Dara tengah tersenyum manis, menungguku ditengah taman dibawah pohon manggis, didekat danau kecil yang dipenuhi burung belibis. Hatiku berdesir-desir dipermainkan rindu, bulu-bulukupun meremang tegak menugu, bening bola matanya bermain-main di angan-anganku.

Tiba-tiba suara klakson keras berbunyi, diiringi teriakan serapah dan caci maki, karena aku nyelonong menyeberang jalan tanpa permisi. Lamunanku mendadak buyar menepi, tapi aku terus berlari tak peduli, menyusuri jalan sempit dan sepi, berharap segera menemui pujaan hati. Tepat ditengah taman dibawah pohon manggis, senyum si Dara tersungging manis, seperti pelangi dirinai gerimis, debar di jantungkupun terkinyis-kinyis.

********************************************

“ Hai apa kabar, lama menunggu ya”, sapaku basa-basi.
“ Ndak, baru saja kok beberapa menit sebelum kamu“, jawabnya dengan lembut.

Ah hatiku benar-benar berbunga-bunga mendengar kata lembutnya, jiwaku serasa melambung di awang-awang jingga, rerumputan di taman inipun bergoyang-goyang seolah menggoda.

“ Mari kita berjalan-jalan menyusuri taman ini yuk “, ajakku kepadanya.
“ Boleh ayo”, sambil mengangguk dia mengiyakan ajakanku.

********************************************

Berjalan berdua berdampingan, menyusuri indahnya taman, bunga-bunga bermekaran indah menawan, semerbak harumnya menebar wewangian, kicau burung-burung parkit hinggap di dahan-dahan, desah angin berhembus lembut perlahan, sepasang kecoak bercumbu didalam selokan, warna senja benar-benar elok mempesonakan.

“ Hey berhenti kau !”, suara bentakan tiba-tiba muncul dari balik rimbun ilalang.

Gareng si preman kelas keteng, tubuhnya kerempeng dan penuh koreng, telah berdiri petentang-petenteng, menghadang didepan kami sambil matanya mencereng.

“Mau kemana kalian, sore-sore berpacaran ditempat umum “, tanyanya kasar.
“Tahu nggak kalian taman ini adalah daerah kekuasaanku “, bentaknya dengan suaranya yang cempreng.
“Hei Gareng, bukankah taman ini milik umum, kenapa kau mengaku-aku kepunyaanmu !“, bentakku tak kalah kerasnya.
“Kamu berani ya, kamu menantangku ya !”, Gareng semakin garang membentakku.
“Iya, memangnya kenapa, aku tak akan takut kepadamu !”, gertakku.
“Sudahlah bang jangan diterusin, tak baik bertengkar di tempat umum !”, bisik Dara dengan khawatir kepadaku.

Tetapi tiba-tiba saja Gareng menerjang ke arahku, dengan gesit dan reflek yang kupunya akupun berhasil menghindar darinya. Si Dara berteriak-teriak histeris berharap kami berhenti berkelahi. Gareng terus menerjang dengan garang, aku tak kalah gesit terus menghindar dan sesekali balas menerjang. Hingga pada suatu kesempatan aku berhasil menendangnya hingga terjengkang, lalu dia pun lari tunggang langgang.

Ketika hendak kukejar dia, si Dara melarangku, “Sudahlah bang ndak usah dikejar lagi dia!”

“Kita pulang aja yuk bang!” ajak si Dara.
“Kenapa pulang? Kita kan belum puas menikmati jalan-jalan kita?” elakku.
“Tapi bang, hati Dara sudah nggak nyaman lagi disini bang,” Dara terus merengek.
“Dara takut nanti si Gareng akan mengajak teman-temannya mengeroyok abang," terang Dara ketakutan.

Setengah terpaksa kami berdua pun melangkah pulang, meski sebenarnya hatiku masih gamang, sebab rasa cinta di dada belum sempat tertuang dan gelegak-gelegak kerinduan masih terus mengguncang-guncang.

********************************************

“Hey dari mana saja kau sepanjang sore ini sayang?” sergah nyonya di depan pintu.

Lalu dengan rasa sayang dia memelukku dan membawaku duduk di sofa di ruang tamu, jemari-jemari lembutnya mengelus-ngelus kepalaku sedangkan aku berbaring dengan manja di pangkuannya.

Nyonyaku adalah seorang janda, semua anak-anaknya telah menikah dan tinggal diluar kota, dia tinggal di rumah ini hanya ditemani Iyem pembantu rumah tangga dan aku. Mungkin karena dia merasa kesepian sehingga dia benar-benar sangat sayang kepadaku. Dia merawatku dengan penuh kasih sayang seperti layaknya anaknya sendiri, meski terkadang dia agak cerewet dan memarahiku, mungkin itu karena rasa perhatian dan sayangnya kepadaku.

“Wah kelihatannya kamu belum makan sore ini ya sayang,” bisik nyonya sambil mencium leherku.

“Makanya jangan sering main keluar rumah, kamu nanti jadi kotor dan bau “, nasehatnya kepadaku.

Aku terdiam sambil memandang sorot matanya yang menatap penuh kasih kepadaku.

“Iyem!” tiba-tiba dia berteriak memanggil si Iyem.
“Iya nya!” Ada apa nya!” sahut Iyem dari dapur.
“Ambilkan biscuit dan susu untuk makan si Hitam ya!” perintah nyonya.
“Baik nya!” jawab si Iyem

Bergegas si Iyem mengambil biscuit kaleng dan susu dari kulkas untuk makan malamku.


Sumber : Kompas Indonesia